top of page
Search

Mengapa demo di Prancis sering brutal?

Writer: grescourse
grescourse
Aug 20
1 min read

Photo by Sarah Meyssonnier/REUTERS


Prancis punya sejarah revolusi yang berdarah-darah, hubungan antara negara dan rakyat sering dibentuk lewat konflik, bukan berdasarkan musyawarah yang tenang.


Alhasil, demo menjadi bagian integral dalam kebebasan masyarakat Prancis untuk menekan pemerintahan untuk berhenti atau bertindak pada suatu hal. Bagi orang Prancis, melakukan tekanan kolektif di jalan merupakan cara “normal” untuk memaksa sebuah isu masuk dalam pembahasan pemerintah.


Contoh yang sudah terjadi sepanjang sejarah:

  • 1936: mogok buruh mendorong lahirnya hak cuti berbayar.

  • 1995: mogok transportasi membuat pemerintah sangat tertekan dalam isu reformasi pensiun.

  • 2018–2019: gerakan Gilets Jaunes memblokir jalan dan memaksa pemerintah merespons soal pajak dan biaya hidup.

  • 2023: protes pensiun besar-besaran menunjukkan bahwa di Prancis, tekanan jalanan sering dipakai untuk memaksa negosiasi.


Itu sebabnya demo di Prancis ikut menentukan arah kebijakan negara dan menjadi bagian dari kestabilan negara di Prancis. Sebab kemarahan dan ketidakpuasan rakyat telah diberikan wadah konstitusional dan menjadi tradisi.


Dalam cara pandang Prancis, di saat masyarakat merasa didengar, di situlah negara tetap stabil. Meskipun sering kali demonstrasi ala Prancis ini terlihat brutal: semprot tinja ke gedung pemerintah, blokir jalan, mogok transportasi, menutup akses, menduduki gedung pemerintahan/fasilitas publik.


Alhasil, toleransi masyarakat Prancis terhadap gangguan publik seperti ini lebih besar jika dibandingkan dengan negara lain, karena hal itu dianggap bagian dari perjuangan politik.


 
 
bottom of page